Cerita cinta
Posted in
24/11/2014
Senyumnya adalah bagian yang paling kuhapal. Setiap hari kunikmati senyum itu sebagai salah satu pasokan energiku. Kali ini pun tetap sama, ketika kupandangi ia yang sedang menulis sesuatu di kertasnya. Matanya sesekali mengarah padaku, ia menyimpulkan senyum itu lagi.
Aku yang sedang menggambar sketsa wajahnya, memerhatikan setiap lekuk pahatan tangan Tuhan. Detail wajahnya tak kulewati seinci pun. Hidungnya yang tak terlalu mancung, pipi dan rahang yang tegas, dan bentuk bibirnya yang mencuri perhatian siapapun saat menatap lengkungan senyum itu. Aku penggemarnya, seseorang yang mencintainya tanpa banyak ucap, namun dengan tindakan yang nyata.
Secara terang-terangan, seringkali aku tak pernah bilang cinta, namu selalu kutunjukan rasa. Entah lewat sentuhan, perhatian, dan caraku membangun percakapan. Aku mencintainya. Terlalu mencintainya. Sampai-sampai aku tak sadar bahwa kedekatan kita semakin tak terkendalikan, meskipun semua singkat, tapi rasanya cinta begitu terburu-buru mengetuk pintu hatiku.
Betapa kami sangat bahagia cukup dengan seperti. Betapa cara sederhana bisa membuat aku dan dia merasa tak butuh apa-apa lagi, selain kebersamaan dan takut akan rasa kehilangan.
Aku yang menunduk dan masih menggambar, jadi salah tingkah ditatap dengan tatapan seperti. Ia arahkan jemarinya ke atas kepalaku dan membelai rambutku. Aku tak tahu maksud dari sendtuhan itu, entah mengapa seketika tubuhku tak bisa memberi banyak tanggapan atas sentuhannya. Aku merasakan adanya cinta dalam setiap sentuhannya.
"Bagi orang yang ingin membahagiakanmu, tak akan pernah ada luka, meskipun cinta yang ia tunjukkan begitu lambat kaurasakan. Ketika tulus mencintai seseorang, ia melakukan banyak hal karena ia mencintaimu, bukan karena ia memikirkan apa yang akan ia dapatkan ketika ia mencintaimu. Begitu manisnya cinta, lebih manis lagi jika tak hanya satu orang yang berjuang untuk membahagiakan, harus saling membahagiakan."
Ia menikmati gambarku dengan senyuman memesona, senyum yang paling kucintai dan kukagumi. Gambarku adalah sosoknya yang kujadikan sketsa di kertas A4. aku tak melewatkan detail wajahnya yang indah dan penuh ketulusan. Hidungnya yang kurang mancung, rahangnya yang tegas juga bibirnya yang menggemaskan. Aku menebak wajahnya yang terharu ketika karya itu kuberi judul Masa Depan.
Untukmu pria dengan senyum mempesona, dengan kacamata saat kamu bekerja
Dari seseorang yang selalu memperhatikanmu
Seharusnya dari awal aku tak mengenalmu
Posted in
19/07/2013
Akhirnya, aku sampai ditahap ini. Posisi yang sebenarnya tak pernah kubayangkan. Aku terhempas begitu jauh dan jatuh terlalu dalam. Kukira langkahku sudah benar. Kupikir anggapanku adalah segalanya. Aku salah, meyerah adalah jawaban yang kupilih; meskipun sebenarnya aku masih ingin memperjuangkan kamu
Aku terpaksa berhenti karena tugasku untuk mencintaimu kini telah menjadi tugas barunya. Hari-hariku yang tiba-tiba kosong dan berbeda ternyata cukup membawa rasa tertekan. Mungkin, ini berlebihan. Tentu saja kaupikir ini sangat berlebihan karena kamu tak ada dalam posisiku, kamu tak merasakan sesaknya jadi aku
Jika aku punya kemampuan membaca matamu dan mengerti isi otakmu, mungkin aku tak akan mempertahankan kamu sejauh ini. Jika aku cukup cerdas menilai bahwa perhatianmu bukanlah hal yang terlalu spesial, mungkin sudah dari dulu kita tak saling kenal. Aku terburu-buru mengartikan segala perhatian dan ucapanmu adalah wujud terselubung dari cinta. Bukankah ketika jatuh cinta, setiap orang selalu menganggap segala hal yang biasa terasa begitu spesial dan manis? Aku pernah merasakan fase itu. Aku juga manusia biasa. Kuharap kamu memahami dan menyadari. Aku berhak merasa bahagia karena membaca pesan singkatmu disela-sela dingin malamku. Aku boleh tersenyum karena detak jantungku tak beraturan ketika kamu memberi sedikit kecupan meskipun hanya berbentuk tulisan
Aku mencintaimu. Sungguh. Mengetahui kautak memilihku adalah hal paling sulit yang bisa kumengerti. Aku masih belum mengerti. Aku masih belum mengerti. Mengapa semua berakhir sesakit ini? Aku sudah berusaha semampuku, menjunjung tinggi kamu sebisaku, tapi dimana perasaanmu? Tatapanmu dingin, sikapmu dingin, dan aku dilarang menuntut ini itu. Aku bukan siapa-siapamu. Bukan siapa-siapamu
Jika kauingin tahu, aku kesesakan dalam status yang menyedihkan itu. Aku terkatung-katung sendirian. Meminum asam dan garam, membiarkan kamu meneguk hal-hal manis. Begitu banyak yang kulakukan, mengapa matamu masih belum terbuka dan hatimu masih tertutup ragu?
Sejak dulu, harusnya tak perlu kuperhatikan kamu sedetail itu. Sejak pertama bertemu, harusnya tak perlu kucari kontakmu dan kuhubungi kamu dengan begitu lugu. Sejak tahu kehadiranmu, harusnya aku tak menggubris. Aku terlalu penasaran, terlalu mengikuti rasa keingintahuanku. Jika dari awal aku tak mengenalmu, mungkin aku tak akan tahu rasanya meluruhkan air mata di pipi
Iya. Aku bodoh. Puas?
Semua berlalu dan semua cerita harus punya akhir, ini bukan akhir yang kupilih. Seandainya aku bisa memilih cerita akhir, aku hanya ingin mendekapmu, sehingga kautahu; di sini aku selalu bergetar ketika mendo'akanmu
Menjaga dan melindungimu
Posted in
20/06/2013
Aku tahu bahwa mungkin kautidak pernah suka diperlakukan seperti anak kecil, seperti tahanan kota yang dijejeri banyak pertanyaan hanya karena melangkah ke suatu tempat. Aku tahu mungkin kau muak dengan caraku yang tak bisa disaring oleh logikamu, ketika pria-pria lainnya bebas berpergian kemanapun, tapi aku selalu menahanmu untuk melangkah ke tempat manapun, hanya karena aku tak bersamamu saat kauingin bebas berpergian
Inilah caraku melindungimu. Cara yang mungkin tak pernah kauinginkan dan kauharapkan. Mengekangmu terlalu dalam dan membatasi lingkungan sosialisasimu. Mengaturmu layaknya bayi kecil yang tidak boleh kemana-mana tanpa seorangpun yang menemaninya. Dengan begitu gilanya, aku mengkhawatirkanmu, padahal kutahu kaubisa melindungi dirimu sendiri, kaubisa membela dirimu tanpa harus menyertai aku dalam pembelaanmu
Aku terlalu rajin jika harus bertanya siapa saja wanita yang menghubungimu setiap menit. Siapa saja wanita yang mencoba mendekatimu setiap jam, dan siapa saja wanita yang mengomentari status jejaring sosialmu setiap harinya. Mungkin kaumerasa sangat amat risih dengan tindakanku yang terkesan menjijikan, layaknya koruptor yang takut kehilangan milyaran hartanya, layaknya ibu rumah tangga yang sangat menyayangi buah hatinya
Aku selalu curiga dengan semua perkataanmu. aku selalu tak percaya dengan semua pernyataanmu. Jangan berpikir bahwa kauadalah pihak yang paling tersiksa. Jujur, aku sendiri juga tersiksa ketika harus memperlakukanmu seperti penjahat kelas kakap yang harus dipaksa terlebih dahulu baru dia akan mengakui segala perbuatannya. Aku tahu, bahwa kautidak mungkin membohongiku, bahwa perkataanmu pasti dapat dibuktikan
Kauselalu memintaku untuk menjelaskan dasar dari perbuatanku yang membuatmu risih dan jera. Cemburu buta itu tak pernah berdasar, sedangkan posesif tak pernah butuh logika agar sibuk bekerja pada bagiannya. Ya! kausering menyamakanku dengan beberapa wanita yang "dulu" sempat membuatmu bahagia
Dengan segala keterbatasan dan kemampuanku. Detik ini, bisakah kaumengerti sedikit saja? Bahwa aku memiliki banyak kelebihan, tapi satu kekuranganku yang tak kausuka adalah melindungimu dengan cara yang salah. Tapi aku selalu berharap bahwa aku tak akan pernah mencintaimu dengan cara yang salah
Pemendaman ku
Posted in
10/06/2013
Dengarlah bait demi bait titian kata ini
Terkadang, aku sama sekali tak mampu menilik pada bilik mana engkau
tinggal. Hingga sampai saat ini tak kutemui juga dirimu. Entah pada
titik mana aku masih mampu mengeja kehadiranmu. Mampuku hanya mengadu
pada Rabbku, kapan kita hendak bersua? Lalu kuselipkan
doa-doa panjang untukmu di setiap sujud.
Meski tak kuketahui betapa rupawannya dirimu. Semoga kelak aku menjadi
orang yang beruntung saat bisa mendampingimu
Hanya padaNya lah segala harapan kan terselip. Selalu kutitipkan salam rindu pada sang bayu. Entah kan sampai padamu atau tidak. Semoga aku masih tetap mampu mengeja perasaan. Agar segalanya tetap bisa berlaku normal, termasuk hatiku yang merindumu. Pernah kusampaikan pada rintik hujan yang sesaat mengerling ke arahku, betapa aku inginkan syahdunya kita saat bisa menatap reruntuhan awan yang menjadikannya gerimis. Lalu sesaat hanya kutemui diriku masih sendiri di sini, menatap mendung yang menghadirkan redup. Semoga asaku tak redup untuk menunggumu
Pada masa penantian, tentu engkau tahu. Betapa sulit semua kulalui sendirian. Menantimu membawa setangkup niat suci ke hadapan ayahanda. Untuk memindahkan tanggung jawab atasku dari ayahanda ke pundakmu. Pernah kubayangkan saat-saat paling menakjubkan itu menghampiriku. Semua tak lantas kandas. Aku menyimpannya rapat dalam sebait doa, lantas kukirimkan padaNya
Allah tahu seberapa jauh perjuangan kita untuk bertemu dalam sepetak harapan suci. Semoga Allah mudahkan segalanya. Tak terkecuali untuk sebuah semangat di jalan dakwah. Terkadang ingin sekali ku menikah di jalan dakwah. Bersamamu terus menghidupkan ruh-ruh Islam untuk semesta. Melahirkan generasi pengusung peradaban. Semoga Allah merangkul kita selalu
Kelak, akan kau temui seorang aku. Jika kau sempat mampir di beranda ini, jangan kau kaget. Surat ini kutulis khusus untukmu. Dalam sesaknya rindu. Kau pernah bukan merasakan rindu, tapi tak tahu hendak kau sampaikan pada siapa rindu itu. Ya rinduku ini padamu. Pada engkau yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Meski tak kuketahui sekarang ini, biarlah, tak apa. Aku ikhlas dalam penantian ini
Aku selalu berdoa yang sama padaNya. Jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada seseorang yang selalu mencintaiMu. Agar bertambah rasa cintaku padaMu. Karena kutahu, engkaupun hanya titipan dariNya. Yang sewaktu-waktu bisa Dia ambil kapan saja. Jadilah tetap Allah sandaranmu, bukan aku. Kelak ku ingin menjadi penyejuk jiwamu dalam taat, dan dalam jalan cinta menujuNya
Kepadamu sang jodohku
Aku selalu berharap kita kan bertemu suatu saat nanti
Aku selalu berharap kita kan bertemu suatu saat nanti
Membunuh masa lalu
Posted in
08/05/2013
Mataku sembab, menangisimu
Setiap kali mengingatmu, sama saja mengundang air mata membasahi pipiku
Pertemuan kita yang indah memang tak seindah cerita akhirnya
Aku masih menyimpan barang kenangan kita
Menyekap mereka dalam kardus agar aku tak lagi melihatnya
Bahkan aku masih memikirkanmu saat kutahu kautak lagi memikirkanku
Semudah itu kaudatang, semudah itu kaumeninggalkan
Semudah itu kau mengendalikan hatiku, semudah itu kau merusak dan mengobrak-abriknya
Jangan tanyakan mengapa hingga saat ini aku masih merindukanmu
Mengapa dalam rentan waktu tanpamu, aku merasa perasaanku mati seketika
Aku tak dapat membedakan mana tangis dan mana tawa, mana amarah dan cinta yang membuncah
Dunia semakin terlihat gelap dimataku
Bagaimana aku bisa merasa tersiksa jika kutahu kau bahagia bersama dia?
Mustahil bagiku, mengosongkan otak kiri dan kananku
Hingga tak ada lagi kamu yang mengisinya
Sulit bagiku, saat harus membunuh masa lalu
Masa dimana ada kamu
Hanya ada kamu
Setiap kali mengingatmu, sama saja mengundang air mata membasahi pipiku
Pertemuan kita yang indah memang tak seindah cerita akhirnya
Aku masih menyimpan barang kenangan kita
Menyekap mereka dalam kardus agar aku tak lagi melihatnya
Bahkan aku masih memikirkanmu saat kutahu kautak lagi memikirkanku
Semudah itu kaudatang, semudah itu kaumeninggalkan
Semudah itu kau mengendalikan hatiku, semudah itu kau merusak dan mengobrak-abriknya
Jangan tanyakan mengapa hingga saat ini aku masih merindukanmu
Mengapa dalam rentan waktu tanpamu, aku merasa perasaanku mati seketika
Aku tak dapat membedakan mana tangis dan mana tawa, mana amarah dan cinta yang membuncah
Dunia semakin terlihat gelap dimataku
Bagaimana aku bisa merasa tersiksa jika kutahu kau bahagia bersama dia?
Mustahil bagiku, mengosongkan otak kiri dan kananku
Hingga tak ada lagi kamu yang mengisinya
Sulit bagiku, saat harus membunuh masa lalu
Masa dimana ada kamu
Hanya ada kamu
Belajar melepaskan
Posted in
21/04/2013
Kamu mengenalkan namamu begitu saja, uluran tanganmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Awalnya, semua berjalan sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal manis; walaupun segala percakapan itu hanya tercipta melalui pesan singkat. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicaraan manis kala itu hanya kuanggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa
Kehadiranmu membawa perasaan lain. hal berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata dan hatiku dengan lebar. Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan aneh. Ada yang hilang jika sehari saja kamu tak menyapaku melalui dentingan pesan. Setiap hari ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada akhirnya kita berbicara hal paling menyentuh; cinta
Aku bergejolak dan menaruh harap. Apakah kausudah menganggap aku sebagai wanita spesial meskipun kita tak memiliki status dan kejelasan? Senyumku mengembang dalam diam, segalanya tetap berjalan begitu saja, tanpa kusadari bahwa cinta mulai menyeretku ke arah yang mungkin saja tak kuinginkan
Saat bertemu, kita tak pernah bicara banyak. Hanya sesekali menatap dan tersenyum penuh arti. Ketika , berbicara di SMS, kita begitu bersemangat, aku bisa merasakan semangat itu melalui tulisanmu. Sungguh, aku masih tak percaya segalanya bisa berjalan secepat dan sekuat ini. Aku terus meyakinkan diriku sendiri, bahwa ini bukan cinta. Ini hanya ketertarikan sesaat karena aku merasakan sesuatu yang baru dalam hadirmu. Aku berusaha memercayai bahwa perhatianmu, candaanmu, dan caramu mengungkapkan pikiranmu adalah dasar nyata pertemanan kita. Ya, sebatas teman, aku tak berhak mengharapkan sesuatu yang lebih
Aku tak pernah ingin mengingat kenangan sendirian. Aku juga tak ingin merasakan sakit sendirian. Tapi, nyatanya
Perasaanku tumbuh semakin pesat, bahkan tak lagi terkendalikan. Siapakah yang bisa mengendalikan perasaan? Siapakan yang bisa menebak perasaan cinta bisa jatuh pada orang yang tepat ataupun salah? Aku tidak sepandai dan secerdas itu. Aku hanya wanita yang takut kehilangan seseorang yang tak pernah aku miliki
Salahku memang jika mengartikan tindakanmu sebagai cinta. Tapi, aku juga tak salah bukan jika berharap bahwa kamu juga punya perasan yang sama? Kamu sudah jadi sebab tawa dan senyumku, aku tak percaya kautak mungkin membuatku sedih dan kamu tak akan jadi sebab air mataku. Aku percaya kamulah kebahagiaan baru yang akan memberiku sinar paling terang. Aku sangat memercayaimu, sangat! Dan, itulah kebodohan yang harus kusesali
Ternyata, ketakutanku terjawab sudah, kamu menjauhiku tanpa alasan yang jelas. kamu pergi tanpa ucapan pisah dan pamit. Aku terpukul dengan keputusan yang tak kausampaikan padaku, tapi pantaskah aku marah? Aku tak pernah jadi siapa-siapa bagimu, mungkin aku hanya persinggahan; bukan tujuan. Kalau kauingin tahu, aku sudah merancang berbagai mimpi indah yang ingin kuwujudkan bersamamu. Mungkin, suatu saat nanti, jika Allah izinkan, aku percaya kita pasti bisa saling membahagiakan
Aku tak punya hak untuk memintamu kembali, juga tak punya wewenang untuk memintamu segera pulang. Masih adakah yang perlu kupaksakan jika bagimu aku tak pernah jadi tujuan? Tidak munafik, aku merasakan kehilangan. Dulu, aku terbiasa dengan candaan dan perhatian kecilmu, namun segalanya tiba-tiba hilang menguap, bagai asap rokok yang hilang ditelan gelapnya malam
Sesungguhnya, ini juga salahku, yang bertahan dalam diam meskipun aku punya perasaan yang lebih dalam dan kuat. Ini bukan salahmu, juga bukan kesalahannya. Tapi, tak mungkin matamu terlalu buta dan hatimu terlalu cacat untuk tahu bahwa aku mencintaimu
Aku harus belajar tak peduli. Aku harus belajar memaafkan, juga merelakan
Ketika aku tak memahamimu
Posted in
09/03/2013
Awalnya, ini hanya perasaan kagum yang tak begitu kupedulikan. tapi
ternyata aku salah; perasaan ini berkembang menjadi rasa takut
kehilangan yang sulit kuhindari. Aku mulai menyayangimu tanpa
sepengetahuanmu. Semua berjalan seperti biasa dan aku semakin menikmati
kedekatan kita yang entah harus diberi nama dengan status apa
Aku
tak pernah takut saat mencintaimu. Layaknya air laut yang mengikuti
lekuk gelombang, seperti itulah aku membiarkan rasa cintaku terus
mengalir tanpa kendali. Percakapan setiap malam yang kauselipkan lewat
pesan singkat mampu menyeretku ke perasaan yang dulu sangat ingin
kuhindari; cinta. Kamu membuka mataku dengan tindakanmu yang ajaib,
sampai-sampai aku tak lagi paham alasan yang harus kujelaskan; mengapa
aku bisa begitu menggilaimu
Cinta ini sangat tulus.
Sungguh. Tak ada penuntutan yang kulakukan, aku juga tak mengganggumu,
dan aku juga tak meminta status serta kejelasan. Aku tidak seberani itu
kan? Kamu mengetahuiku juga mengenalku, tak mungkin jika kautak
menyadari ada perasaan berbeda dalam hatiku. Aku bisa menebak matamu,
ketika kamu bercerita tentang dunia yang ingin kausinggahi, saat
kaumembawaku ke dalam dunia ceritamu yang sudah mulai kupahami. Aku
berusaha memahami kemisteriusanmu
Aku merasa sudah
mulai memahami. Aku merasa punya kesempatan untuk sedikit mencicipi
hidup menyenangkan bersamamu. Aku sanggup mengisi hari-harimu dengan
kebahagiaan baru. Tapi, ternyata kita tak sejalan. Perhatian yang
kusediakan khusus untukmu seakan menguap tak berbekas. Rasa cinta yang
kuperjuangkan dengan sangat demimu seolah-olah tak pernah mampir sedikit
dalam benakmu. Kaubiarkan aku mengejar bayangan, sementara kenyataan
yang sesungguhnya entah kausembunyikan dimana. Batas kebahagian yang
dulu kaujelaskan secara utuh padaku; kini buram dan hitam
Tidak
mungkin kautidak tahu bahwa aku mencintaimu. Tidak mungkin kautak
memahami perhatian dan tingkah lakumu. Tidak mungkin hatimu begitu buta
untuk mengartikan segalanya yang kurasakan terhadapmu adalah cinta! Apa
hatimu sengaja kaukunci rapat untukku? Apa matamu sengaja kaubutakan
agar tak membiarkan bayanganmu menyentuh retinamu?
Langkahku
terus mencoba menggapaimu, jemariku merasa menggenggam tanganmu; namun,
ternyata semua kosong. Kukira, percakapan kita adalah hal yang spesial
bagimu. Kusangka, semua perlakuanmu terhadapku adalah bukti bahwa kau
menganggapku istimewa. Nyatanya, aku salah menafsirkan. Bagimu, aku
bukan siapa-siapa dan tak berarti apa-apa
Aku tak bisa
menahamu pergi. Bahkan, ketika kaumemilih habiskan kebahagiaanmu bersama
yang lain, kemudian membiarkan aku sendirian. Tanpa mengucapkan apa-apa
dan tanpa kautahu sudah ada yang tumbuh diam-diam di hatiku; cinta
Ternyata,
aku belum benar-benar memahamimu. Ternyata, aku belum benar-benar
mengenalmu. Ternyata, kamu yang kuperjuangkan dengan sangat mendalam;
tak sehebat yang kubayangkan
Subscribe to:
Posts (Atom)


































